Sebagai proses pencegahan obat obatan dapat diberikan kepada ternak dalam proses

Manusia selalu memiliki cara untuk bertahan hidup dan melestarikan alam. Salah satunya dengan membudidayakan satwa harapan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuannya untuk menghasilkan bahan baku, bermanfaat secara ekonomis atau memberkan jasa.

Satwa harapan ini sangat bermanfaat bagi manusia. Salah satunya, jumlah besar komoditas atau bahan baku untuk suatu produk tidak perlu memburu atau merusak alam.

Pengertian Satwa Harapan

Satwa harapan adalah hewan yang dibudidayakan dengan tujuan ketersediaan sumber bahan baku industri, hewan laboratorium, dan/atau pakan. Budidaya satwa harapan menjadi alternatif selain hewan ternak pada umumnya (kerbau, sapi, kambing, ayam, dan sebagainya) yang telah banyak dipelihara.

Adapun Kemdikbud merumuskan satwa harapan adalah segala jenis hewan yang diharapkan mampu menghasilkan jasa, bahan baku, atau manfaat ekonomis maupun non-ekonomis lainnya ketika dipelihara atau diternakakan.

Satwa harapan juga didefinisikan sebagai satwa atau binatang selain yang diternak atau dipelihara dengan harapan memberikan bahan dan jasa seperti layaknya hewan ternak. Secara sederhana, satwa harapan merupakan satwa liar ketika diperlihara atau diternakan akan memberikan manfaat ekonomis dan non ekonomis.

Syarat Budidaya Satwa Harapan

Budidaya satwa harapan berkaitan dengan jumlah satwa liar pada jumlah tertentu yang diambil dari alam. Kemudian, periset atau orang yang akan membudidayakan harus mengembangkan satwa tersebut dari keturunan-keturunan yang berhasil ditangkarkan. Berikut syarat untuk mengembangkan satwa harapan untuk komoditas domestik melalui penangkaran.

  1. Untuk ketepatan pemasaran produk diperlukan masyarakat dengan sosial budaya yang sesuai dengan komoditi yang akan dikembangkan.
  2. Harus menguasai ilmu dan teknologi yang meliputi ilmu ekologi satwa liar dan teknologi sesuai perkembangan zaman.
  3. Memperhatikan keadaan satwa liar yang akan dibudidayakan, apakah populasinya di ala mencukupi atau tidaak, proses pemeliharaan dan pemanfaatannya, serta memperhatikan kondisi spesies seperti ukuran tubuh dan perilaku.
  4. Perlu adanya tenaga terampil untuk menerapkan konsep ekologi sekaligus pengelolaan penangkaran.

Manfaat Satwa Harapan

Budidaya satwa harapan memiliki beberapa manfaat di antaranya.

  1. Manfaat biologis yakni sebagai sumber energi berupa makanan dengan sumber protein hewani (daging, telur, susu) dan aneka obat-oabatan untuk berbagai jenis penyakit.
  2. Manfaat ilmu pengetahuan, filosofi, dan pendidikan, tidak jarang satwa harapan dijadikan sebagai bahan percobaan atau objek penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat.
  3. Manfaat ekonomi, sebagai alat angkut, sumber pendapatan masyarakat atau devisa negara, tenaga kerja, bahan baku industri, dan laik-lain.
  4. Manfaat estetika sebagai objek rekreasi dan wisata atau sebagai hewan hias atau peliharaan bagi penggemarnya. Manfaat estetika juga memberikan dampak komoditas ekonomi yang bernilai tinggi.
  5. Manfaat ekologis (lingkungan) sebagai salah satu komponen ekosistem yang mengatur dan menjaga stabilitas ekosistem. Misalnya penyubur biji serta penyerbukan tumbuhan dan lain sebagainya.
  6. Manfaat rohaniah (kepercayaan) sebagai bahan sesajian, peribadatan, hewan qurban, dan lain sebagainya.

Jenis-jenis Satwa Harapan

Hewan satwa harapan secara garis besar terbagi dalam dua kelompok, yakni kelompok hewan bertulang belakang dan kelompok hewan tak bertulang belakang.

1. Satwa Harapan Bertulang Belakang

Jenis satwa harapan yang dapat dibudidayakan untuk kelompok hewan bertulang belakang atau vertebrata seperti reptil, mamalia, dan unggas. Berikut ciri-ciri satwa harapan bertulang belakang sebagai berikut.

  • Alat kelamin yang terpisah atau hermafrodit.
  • Memiliki ruas-ruas tulang belakang atau kolumna vertebrata.
  • Mempunyai alat indra yang berupa sepasang mata dan juga sepasang telinga.
  • Memiliki tengkorak atau kranium yang diisi oleh otak.
  • Memiliki sepasang ginjal untuk alat ekskresi.
  • Memiliki endoskleton atau kerangka dalam yang tersusun atas tulang keras serta tulang rawan.
  • Alat pernapasan berupa insang atau juga paru-paru, pada vertebrata tingkat tinggi celah pada ingsang terdapat pada fase embrio.
  • Memiliki sistem pencernaan yang lengkap terdiri dari mulut, lambung, anus, kerongkongan, dan lambung.

Satwa harapan tak bertulang belakang atau invertebrata seperti cacing, larva, serangga, lebah madu, dan sebagainya. Berikut ciri-ciri satwa harapan tak bertulang belakang sebagai berikut.

  • Simetri tubuh bilateral dan radial.
  • Rangka tubuh terletak di luar.
  • Sistem ekskresi masih sangat sederhana.
  • Susunan saraf terletak di bawah sistem pencernaan.

Teknik Budi Daya Satwa Harapan

Perbedaan tujuan pemeliharaan satwa harapan bergantung pada jenis ternaknya. Berikut teknik dalam budi daya satwa harapan.

1. Pemeliharaan Kandang

Kebersihan kandang menjadi penting dalam budi daya satwa harapan. Tujuannya kesehatan satwa dapat terjaga, terhindar dari jamur atau bakteri penyakit yang tidak diinginkan. Caranya cukup mudah.

Pertama rutin membersihkan kandang setidaknya seminggu sekali sehingga kelembapannya pun terjaga. Kedua menjaga kebersihan tempat pakan dan minum yang digunakan satwa harapan. Ketiga, bersihkan lantai kandang dari kotoran yang lengket.

Bibit ternak dipilih dengan pertimbangan sifat unggul dan memiliki mewariskan sekaligus memenuhi persysratan tertentu untuk dikembangbiakkan. Kunci utama dari budi daya satwa harapan adalah pemilihan bibit.

Pemilihan bibit dilakukan dengan seleksi yang memperhatikan catatan kemampuan prosukdi setiap individu. Bibit yang baik dapat dilihat melalui penampilan fisik yang sehat, kelincahan, bentuk tubuh yang bagus, dan tidak memiliiki kecacatan.

3. Pemberian Pakan

Pakan menjadi faktor utama penentu tingkat produktivitas ternak. Alokasi dana pakan mencapai 60-80 persen dari total biaya usaha. Adapun jenis pakan diberikan kepada satwa harapan dengan pertimbangan jenis, produktivitas, dan umur ternak.

Tidak hanya itu, jumlah kebutuhan, cara pemberian pakan, dan waktu pemberian pakan menjadi penting dan harus diperhatikan pula. Misalnya pakan untuk jangkrik harus mengandung konsentrat dan sayuran. Pakan tambahan atau konsentrat dapat berupa pellet atau bekatul yang dicampur dengan sayuran.

4. Pencegahan Hama dan Penyakit

Hama yang menyerang satwa harapan dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni hama yang berperan sebagai kompetitor dalam pakan seperti rayap, kutu tanah, dan semut. adapun hama yang berperan ssebagai preditor terdiri dari bebek, tokek, kadal. tikus, dan ayam.

Pembudidaya harus memperhatikan satwa harapan mereka agar tidak terganggu oleh hama. Berikut beberapa langkah untuk mengantisipasi satwa harapan terserang hama.

  • Antisipasi kutu tanah dengan fermentasi media cacing
  • Menjaga kebersihan lingkungan
  • Antisipasi kadal, tikus, atau hama lainnya yang berpotensi masuk kandang dengan cara membuat sistem penutup kandang yang baik
  • Antisipasi semut dengan kapur semut

Budi daya satwa harapan memerlukan berbagai persiapan yang matang. Sarana untuk mulai membudidayakan satwa harapan terdiri dari bahan dan teknik budidaya.

Bahan yang diperlukan dalam budi daya satwa harapan di dantaranya bibit, pakan, air, kandang, dan obat-obatan. Pemilihan bibit tentu mempertimbangkan keunggulan dari satwa harapan yang akan dibudidayakan. Caranya dengan mempelajari ciri kesehatan yang baik dari hewan yang akan dibudidayakan.

Pakan menjadi bagian penting dalam budi daya satwa harapan. Mereka harus terpenuhi nutrisinya baik dari bahan murni organik dan anorganik. Atau, dengan mencampurkan keduanya. Manajemen pakan yang baik berpengaruh pada pertumbuhan ternak. Ternak dapat tumbuh sesuai target jika manajemen pakan yang diberlakukan baik dan tepat.

Obat-obatan sangat diperlukan dalam budi daya satwa harapan. Pasalnya ia akan menjadi tameng satwa dari berbagai hama dan penyakit yang mengganggu proses pertumbuhan. Obat juga penting untuk mengobati satwa yang terserang penyakit dab/atau hama.

Air menjadi media untuk menjaga kelembapan udara di sekitar kandang atau media hidup satwa. Ia harus tersedia dengan cukup dan tentu kualitasnya terjamin.

Kandang atau media hidup satwa menjadi tempat berlindung satwa dari cuaca buruk (panas matahari, hujan, angina kencang, dan lainnya) dan tempat berkembang biak. Secara genetic, ternak memiliki sifat dan kebutuhan berbeda. Namun, secara umum, pembangunan kandang harus memenuhi persyaratan minimal, yakni layak untuk ditinggali oleh ternak.

Di antaranya ternak dapat bergerak bebas di dalam kandang. Kandang juga harus menunjang produktivitas dari satwa harapan. Kandang memiliki saluran pembuangan limbah yang layak dan tidak mengganggu lingkungan. Kandang harus memiliki sirkulasi udara yang lancar. Kandang dapat mempermudah pekerja dalam mengelola ternak. Harus mudah dibersihkan. Dapat melindungi ternak dari terik matahari, hujan dan kondisi lingkungan yang dapat mengganggu kesehatan ternak.

Peternak satwa harapan harus menguasai teknik-teknik budi daya sehingga kesehatan dan kesejahteraan satwa dapat terjamin. Di antaranya penguasaan terhadap pemeliharaan kandang, pemberian pakan, pemilihan bibit, dan pencegahan hama serta penyakit.

Satwa Harapan yang Dapat Dibudidayakan

Berikut beberapa jenis satwa harapan yang dapat dibudidayakan oleh manusia.

1. Lebah

Lebah merupakan sekelompok besar serangga yang hidupnya berkelompok meskipun sebenarnya sifat lebah tidak semuanya seperti itu. Semua lebah masuk dalam suku atau familia Apoidae (ordo Hymenopetra: serangga bersayap selaput). Di dunia terdapat kurang lebih 20.000 spesies lebah yang ditemukan di setiap benua, kecuali Antartika.

Lebah memiliki sepasang kaki dan dua pasang sayap. Ia membuat serangan di atas bulkit, atap rumah, dan pohon kayu. Propolis (perekat dari getah pohon) dan malam yang diproduksi dari kelenjar lebah betina muda menjadi bahan baku pembangunan sarang lebah. Makanan dari lebah adalah nektar bunga dan serbuk sari.

Pemegang peran penting dalam kehidupan lebah ialah lebah betina. Ia menentukan perilaku lebah. Beberapa spesies lebah tertentu bertahan hidup dengan dirinya sendiri (soliter) dan sebagian lainnya memiliki perilaku sosial atau hidup berkelompok. Lebah soliter mandiri dalam membangun sarang dan mencari makan untuk dirinya dan keturunannya.

Biasanya ia akan meninggalkan sarang atau mati ketika keturunannya belum menjadi dewasa. Tidak jarang, lebah soliter merawat dan memberi makan anaknya tanpa menyiapkan cadangan makanannya. Bentuk hubungan semacam itu disebut dengan subsosial.

Tidak jarang juga ditemukan lebah yang hidup dengan cara berkelompok, biasanya saling berbagi tugas. Tugas dibebankan sesuai dengan bentuk fisik masing-masing.

2. Jangkrik

Jangkrik merupakan serangga yang berkerabat dekat dengan belalang. Jangkrik memiliki tubuh kecil silindris, kepalanya hampir bulat dan sungut panjang seperti benang. Ia termasuk dalam omnivore dengan suara khas yang dihasilkan oleh cengkering jantan. Tujuannya untuk manrik perhatian betina dan menghalau kedatangan jangkrik jantan lainnya.

Suara cengkering akan semakin keras ketika suhu udara turun. Di dunia, ada kurang lebih 900 spesies cengkering jangkrik termasuk di dalamnya gangsir. Jangkrik telah lama dipelihara manusia. Bahkan di Asia dianggap sebagai pembawa keberuntungan.

Jangkrik termasuk serangga layak santap (edible insects). Kelayakan tersebut diamini oleh banyak negara di dunia dengan berbagai macam santapan yang dibuat. Misalnya di pedesaan Jawa, jangkrik bakar atau sangrai telah sejak lama menjadi kudapan tradisional.

Di negara-negara Asia seperti Kamboja, Korea, Thailand, dan Jepang, jangkrik dikenal sebagai makanan sumber protein. Menurut fatwa MUI no. Kep-139/MUI/IV/2000 menyebutkan bahwa mengonsumsi dan memelihara jangkrik menjadi hal yang mubah dan halal.

Jangkrik tidak hanya dapat di makan. Ia juga menjadi bagian permaidan atau hiburan. Anak-anak desa di Indonesia memelihara jangkrik terutama jenis jangkrik kalung dan jenis-jenis jangkrik celiring. Tujuannya untuk dinikmati suaranya ataupun diadu.

Laga jangkrik sendiri yang melibatkan orang-orang dewasa telah ada di Tiongkok sejak era Dinasti Song (960-1278 M). kebiasaan tersebut dibawa masuk ke Jawa melalui orang-orang Tionghoa. Ia pun berhasil masuk ke dalam Keraton Yogyakarta pada masa kepemimpinan Sultan Hamengku Buwana VII (1877-1921).

3. Cacing Tanah

Cacing tanah meru[akan cacing dengan bentuk tubuh tabung dan tersegmentasi dalam filum Annelida. Pada umumnya, hidup dalam tanah. Makanan yang mereka santap adalah organik hidup dan mati. Sistem pencernaan berjalan melalui panjang tubuhnya.

Cacing tanah melakukan respirasi melalui kulit. Ia memiliki sistem transportasi ganda, yakni sistem transportasi yang terdiri dari cairan selom dengan pergerakan dalam selom yang berisi cairan dan sistem peredaran darahnya tertutup.

Cacning memiliki sistem saraf pusat dan perifer. Cacing memiliki sistem saraf pussat mulai dari dua ganglia atas mulut, satu di kedua sisi, terhubung ke tali saraf berlari kembali sepanjang-panjangnya ke neuron motor dan sel-sel sensorik di setiap segmen.

Cacing tanag adalah hermafrodit, yakni setiap individu membawa organ seks pria dan wanita. Mereka tidak punya kerangka internal atau eksoskeleton. Untuk mempertahankan struktur caranya dengan memanfaatkan rangka hidrostatik dengan cairan ruang coelom.

Cacing tanah memiliki manfaat bagi kesehatan. Di antaranya mengobati penyakit tifus, mengatasi peradangan, mengatasi diare, mengatasi gangguan pembuluh darah, memebrikan energi, antitumor, dan mengatasi konstipasi.

4. Ulat Sutra

Ulat sutra (Bombyx Mori L.) merupakan jenis serangga atau ngengat yang menghasilkan benang berkualitas. Pada umumnya, masyarakat memanfaatkan ulat sutra untuk membuat kain sutra yang bernilai ekonomis tinggi.

Secara morfologi, tampilan ulat sutra mirip dengan ulat sagu. Keduanya memiliki warna kulit putih, meskipun ukuran tubuhnya terlihat lebih panjang dan ramping daripada jenis ulat lainnya.

Permukaan kulit terdapat bulu-bulu serta memiliki tanduk anal pendek pada bagian tubuh belakangnya. Ia berganti kulit ketika memasuki instar baru. Tubuhnya terbagi menjadi tiga bagian utama, yakni kepala, dada, dan perut.

Siklus hidup sutra dimulai dari fase telur, fase larva, fase pupa, dan berakhir di fase imago. Ulat sutra memiliki beberapa manfaat untuk manusia. Di antaranya sebagai olahan obat tradisional untuk mengobati masuk angina, meringankan kejang-kejang, mencairkan dahak, dan manfaat lainnya.

Tidak hanya itu, ulat sutra juga dapat dimanfaatkan sebagai makanan ringan dengan cara dibakar. Kemudia disantap atau dijadikan makanan ringan. Ulat sutra dapat menjadi salah satu alternatif untuk merawat kulit wajah. Kepompong sutra memiliki komposisi jaringan mirip dengan struktur kulit manusia.

Kepompong sutra juga kaya dengan asam amino dan pH yang baik bagi perawatan kulit wajah. Perawatan dengan kepompong ulat sutra banyak dipraktikkan di Thailand dan Jepang.

Baca juga:

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien