Pihak yang berpartisipasi dalam kongres adalah titik-titik masing-masing negara anggota asean

Avina Nakita Octavia, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Jember menjadi salah satu dari lima perwakilan pemuda Indonesia di ajang 1st ASEAN Youth Dialogue yang digelar di Kamboja pada tanggal 24 hingga 27 Juli 2022 lalu. Yang lebih membanggakan lagi, Avina, begitu dia akrab  dipanggil, terpilih menjadi wakil unsur mahasiswa Indonesia. Kegiatan kongres Pemuda ASEAN ini menjadi istimewa sebab tidak hanya melibatkan pemuda asal negara ASEAN tapi juga dihadiri oleh perwakilan pemuda dari Korea Selatan.

“Kegiatan ASEAN Youth Dialogue adalah platform bagi para pemuda negara ASEAN dan Korea Selatan untuk mengetahui dan terlibat dalam wacana pembuatan kebijakan tingkat ASEAN dengan cara berpartisipasi dalam sesi dialog dengan para Menteri Luar Negeri negara ASEAN dan Korea Selatan, serta mitra dialog tingkat tinggi ASEAN dan Korea Selatan,” ujar Avina membagi pengalamannya selama empat hari di Kamboja di kampus Tegalboto (12/8).

Avina dan kawan-kawan turut serta dalam banyak kegiatan formal seperti mengikuti ASEAN Talk, plenary session, high-level panel discussion, making policy recommendation hingga dialogue with ASEAN Youth Minister/High-level officials. Hasil dari kegiatan ini adalah rekomendasi kebijakan yang dibuat oleh delegasi pemuda yang ditansmisikan ke ASEAN Senior Official Meetings on Youth (SOMY) dan SOMY+3, serta akan digunakan untuk implementasi ASEAN Work Plan on Youth 2021-2025 dan ASEAN-Republic Of Korea Plan of Action 2021-2025.

“Tentunya kami banyak membahas permasalahan yang sedang dihadapi oleh pemuda di era revolusi industry 4.0. Tapi kami juga tidak melupakan kegiatan yang bersifat pengenalan budaya, pada saat makan malam perpisahan, perwakilan Indonesia memperkenalkan baju adat Papua dan keindahan kebaya. Kami juga unjuk kebolehan menampilkan tari Gemufamire dari Nusa Tenggara Timur. Melalui berbagai kegiatan ini kami para pemuda Indonesia menjadi lebih terkoneksi, bukan saja karena kami memiliki isu penting yang harus dipecahkan bersama tetapi karena kami juga saling memahami melalui kebudayaan,” tutur mahasiswi FH Universitas Jember asal provinsi Riau ini.

Keberhasilan Avina berprestasi di internasional bukan tanpa kerja keras. Untuk menjadi pewakilan Indonesia di ajang 1st ASEAN Youth Dialogue  Avina melewati seleksi termasuk menjalani penugasan membuat makalah ilmiah. Kali ini Avina menulis esai bertajuk Human Capital Development in the Era of Fourth Industrial Revolution : The Role and Digital Innovation. Pemilihan Avina sebagai salah satu wakil Indonesia di 1st ASEAN Youth Dialogue juga tak lepas dari prestasinya sebagai Duta Muda ASEAN 2019 dan anggota Laskar Rempah dalam kegiatan Muhibah Jalur Rempah yang digagas oleh Ditjen Kebudayaan Kemendikbudristek tahun ini.  

“Alhamdulillah saya mendapatkan rekomendasi dari Kementerian Luar Negeri untuk ikut dalam kegiatan ini bersama empat rekan lainnya Alfin Nurul Firdaus, Bernhard Farras Sukandar, Betzy Alimanda Ansori, dan Lukas Kbarek. Masing-masing mewakili unsur-unsur pemuda lainnya di Indonesia. Tentu merupakan suatu kehormatan dan kebangaan dapat menjadi satu-satunya mahasiswa yang terpilih sebagai perwakilan Indonesia,” ungkap Avina bangga.

Ketika ditanya apa resep suksesnya konsisten mencetak prestasi, Avina menyebutkan manajemen waktu sebagai resep utamanya.  “Menurut saya manajemen waktu merupakan ketrampilan dasar bagi kita para pemuda di era revolusi industri 4.0. Bagaimana kita mampu beradaptasi dengan perubahan tatanan hidup yang semakin cepat, membaca peluang dan menghadapi tantangan, itu semua dimulai dari diri sendiri, karena menjadi tanggung jawab setiap pemuda untuk mengisi waktunya dengan hal yang bermanfaat,” pungkas Avina yang dalam waktu dekat mengikuti pertukaran mahasiswa ke luar negeri. (iim)

Singapura (ANTARA News) - Para anggota Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) sepakat untuk memperkuat peran pemuda dalam pembangunan regional, kata Menteri Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura, Desmond Lee, di Singapura, Selasa petang. "Pada Pertemuan Tingkat Tinggi ASEAN ke 31 pada 13 November 2017, para pemimpin ASEAN menyatakan sepakat untuk memperkuat peran pemuda karena negara-negara ASEAN banyak kesamaan walaupun ada juga perbedaan-perbedaan seperti perbedaan bahasa dan budaya," kata Desmond. Para pemuda ASEAN harus didorong dengan berbagai macam cara termasuk pemanfaatan teknologi terbaru untuk menghubungkan mereka serta melibatkan mereka dalam komunitas global, menteri menambahkan. "Pemuda ASEAN harus mampu menggunakan teknologi terbaru dalam memproses data dan menerima dan mengetahui apakah berita itu benar atau tidak. Karenanya, literasi media sangatlah penting bagi pemuda," katanya. Menrut Desmond, literasi media dapat diajarkan melalui jalur pendidikan di sekolah agar mereka dapat mencari berita dari berbagai sumber termasuk media sosial yang saat ini menjadi tantangan karena ada kecenderungan semakin banyaknya berita-berita bohong.

Terkait dengan perkembangan teknologi, para pemimpin ASEAN juga saat ini sedang memikirkan untuk mengajukan proposal tentang pembangunan kota pintar (smart city) bagi pemuda yang mampu menggunakan dan menerapkan data analitis untuk melakukan proses navigasi tentang keterhubungan antar pemuda dan antara pemuda dan pemerintah, dia menambahkan.

"Selain itu, pemuda juga diharapkan berperan dalam masalah lingkungan hidup termasuk bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim yang dapat mengancam kehidupan manusia terutama mereka yang hidup di daerah pesisir dan tepi sungai," kata menteri.

Pemuda juga didorong untuk menjadi bagian dari upaya menggerakkan ekonomi di negara mereka masing-masing namun mereka masih memerlukan bimbingan dalam mengembangkan keterampilan yang lebih inovatif melalui berbagai bentuk pendidikan, katanya. 

Pewarta: Bambang PurwantoEditor: Unggul Tri Ratomo

COPYRIGHT © ANTARA 2017