Jelaskan akibat dari kesenjangan ekonomi yang dialami Indonesia saat ini

In 2014, the richest 10 per cent of Indonesian households consumed as much as the poorest 54 per cent. Image by Google Maps.

Sejak tahun 1990an, ketimpangan di Indonesia naik lebih pesat dibanding negara Asia Timur manapun selain Tiongkok. Pada tahun 2002, konsumsi 10% rumahtangga terkaya setara dengan konsumsi 42% rumahtangga termiskin. Bahkan pada tahun 2014, naik menjadi 54%. Mengapa kita perlu khawatir mengenai tren ini? Apa penyebabnya, dan bagaimana pemerintah yang sekarang bisa mengatasi naiknya ketimpangan? Apa saja yang perlu dilakukan?  

Ketimpangan tidak selalu buruk;  ketimpangan bisa memberi penghargaan bagi mereka yang bekerja keras dan berani mengambil risiko. Tetapi ketimpangan yang tinggi itu mengkhawatirkan dan bukan hanya karena alasan keadilan. Ketimpangan tinggi bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi, memperparah konflik, dan menghambat potensi generasi sekarang dan masa depan. Contohnya, riset baru mengindikasikan bahwa secara rata-rata, ketika porsi besar pendapatan nasional dinikmati oleh seperlima rumahtangga terkaya, pertumbuhan ekonomi melambat – sementara negara bisa tumbuh lebih cepat ketika seperlima rumahtangga termiskin menerima lebih banyak.

Rumahtangga miskin bisa mengalami  kekurangan sumberdaya untuk memasukkan anak ke sekolah, dan  menjaga kesehatan mereka , sehingga produktivitas mereka berkurang saat dewasa. Mereka mungkin juga tidak bisa membuka usaha. Kesenjangan yang lebar dalam standar kehidupan juga bisa memicu pertentangan sosial, ketidakpastian politik dan konflik yang semakin sering. Di Indonesia, kabupaten dengan ketimpangan lebih tinggi melaporkan 60% konflik lebih banyak dibanding kabupaten dengan ketimpangan yang lebih rendah.  

Ketimpangan di Indonesia naik karena empat sebab utama. Pertama, banyak anak-anak Indonesia, terutama dari rumahtangga miskin dan di desa, tidak memperoleh awal hidup yang sama dengan anak-anak dari keluarga yang lebih kaya. Akibatnya, mereka tumbuh dengan kesehatan dan keterampilan yang kurang. Sepertiga dari seluruh perbedaan pada standar hidup orang dewasa Indonesia saat ini disebabkan oleh faktor-faktor di luar kendali mereka: pendidikan orangtua mereka, tempat mereka lahir, dan jenis kelamin.

  Kedua, hanya sebagian kecil tamatan sekolah memiliki keterampilan yang berguna untuk ekonomi modern, Merekalah yang bisa memperoleh pemasukan lebih tinggi dari pekerjaan formal. Sebaliknya, sebagian besar pekerja tidak terampil terjebak dalam produktivitas rendah, gaji kecil, dan pekerjaan informal. Seiring waktu, kesenjangan pendapatan antara pekerja terampil dan tidak terampil mengakibatkan naiknya ketimpangan.   Ketiga, kepemilikan aset keuangan dan properti di Indonesia semakin terkonsentrasi di tangan mereka yang paling kaya. Satu estimasi menunjukkan bahwa 50% seluruh aset dimiliki oleh 1% penduduk Indonesia – konsentrasi kekayaan ini termasuk tertinggi di dunia. Individu-individu tersebut mendapat pemasukan besar dengan memiliki berbagai aset, dan mengakibatkan ketimpangan yang semakin tinggi. Anak-anak mereka akan mewarisi kekayaan tersebut, tumbuh lebih beruntung dan mendapat manfaat dari pekerjaan yang lebih baik.   Dan keempat, hanya pegawai negeri sipil dan keluarga kaya yang memiliki jaminan kesehatan dan pekerjaan seperti pensium, juga tabungan yang cukup. Ketika terjadi guncangan – misal terkait kesehatan, kehilangan pekerjaan, atau bencana alam – sebagian besar masyarakat Indonesia terpaksa meminjam dari teman, keluarga, menjual aset matapencaharian mereka seperti ternak, atau mengeluarkan anak dari sekolah untuk menghemat pengeluaran dan membantu mencari pemasukan. Kerentanan ini berarti banyak keluarga Indonesia jatuh miskin tiap tahun. Lebih dari setengah masyarakat miskin di Indonesia tahun ini belum miskin tahun lalu.   Masyarakat umum di Indonesia, ketika ditanya melalui survei nasional berapa besar pendapatan nasional yang selayaknya diterima seperlima masyarakat Indonesia terkaya, menjawab idelanya 28%. Namun mereka memperkirakan, kenyataannya 38%. Realitanya lebih ekstrem. Menurut data resmi, 49% seluruh konsumsi dinikmati seperlima masyarakat terkaya.  

Masyarakat Indonesia mendukung adanya kebijakan yang lebih baik untuk menurunkan ketimpangan: 88% responden survei setuju bahwa pemerintah perlu segera mengatasi ketimpangan, dan mengusulkan program yang bisa memperkuat perlindungan sosial, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi korupsi. Mereka kurang antusias dengan usul untuk memperbaiki sekolah dan infrastruktur, juga menaikkan pajak bagi yang kaya.

 

Ada sinyal yang kuat dari pemerintah Presiden Joko Widodo untuk menghentikan laju kenaikan ketimpangan. Laporan Bank Dunia mengenai ketimpangan di Indonesia telah dipaparkan  dalam rapat kabinet pemerintah, dan sasaran resmi untuk menurunkan ketimpangan telah dimasukkan dalam rencana pembangunan jangka menengah. Beberapa tindakan penting sudah dilakukan. Sebagian besar subsidi BBM yang lebih dinikmati masyarakat mampu telah dikurangi dan dananya dialihkan untuk bantuan sosial, layanan kesehatan, dan investasi infrastruktur. Membuka lapangan kerja telah dibantu melalui regulasi usaha dan pasar tenaga kerja yang lebih sederhana. Beberapa inisiatif baru untuk meningkatkan ketaatan pajak punya potensi menurunkan ketimpangan secara langsung (dengan mengurangi disparitas pemasukan) dan tidak langsung (dengan mendanai belanja pemerintah yang bermanfaat bagi masyarakat miskin).

 

Masih banyak tindakan yang bisa dilakukan. Akses layanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat miskin dan anak-anak di desa sudah membaik, tetapi mereka sering menerima mutu layanan yang lebih rendah. Hal ini telah berkontribusi pada rendahnya peringkat Indonesia dalam penilaian siswa internasional. Perlu upaya lebih banyak untuk memastikan kesetaraan akses pendidikan yang bermutu. Juga masih perlu tindakan untuk meningkatkan keterampilan mereka yang sudah bekerja, melalui peluang baru dan pelatihan kerja. Meningkatkan keterampilan pekerja saja belum cukup. Jenis pekerjaan yang lebih baik bisa tercipta melalui infrastruktur yang lebih baik. Selain itu, akumulasi kekayaan melalui cara tidak adil, apakah lewat korupsi atau nepotisme, perlu lebih diselidiki. Dan ketika pendapatan diperoleh dengan cara yang jujur, pajak yang layak perlu dibayar.

  Terakhir, masih banyak yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat miskin dan rentan dari guncangan. Harga pangan yang tinggi bisa dikurangi dengan memperbaiki produktivitas dan logistik pertanian, juga mengizinkan impor untuk menurunkan harga di saat persediaan kurang. Dan jaring pengaman sosial – jaminan dan bantuan sosial – masih bisa diperkuat.   Pengalaman internasional menunjukkan bahwa strategi komprehensif yang meliputi berbagai bidang, digabung dengan kemauan politik bisa membawa perubahan besar sekarang dan di masa depan. Indonesia sedang mengambil langkah menyiapkan strategi tersebut. Membalik naiknya ketimpangan akan sulit, tapi penting bagi masa depan Indonesia.    

Artikel ini diadaptasi dari presentasi Matthew Wai-Poi pada seminar “Who is benefitting from Jokowi’s economic policies” di Asia Institute pada 21 April. Presentasi lengkap tersedia di sini.

 

Blog ini pertama kali dipublikasikan oleh Indonesia at Melbourne.


 

Pada dasarnya, kesenjangan sosial adalah suatu kondisi yang tidak seimbang di dalam kehidupan masyarakat, baik itu secara personal maupun kelompok, yang mana di sana terjadi bentuk ketidakadilan distribusi berbagai hal yang dinilai penting dalam suatu tatanan masyarakat.

Kesenjangan sosial ini seringkali berkaitan dengan adanya suatu bentuk perbedaan yang nyata dan mudah dilihat dalam segi keuangan masyarakat, yang meliputi nilai kekayaan harta. Kesenjangan ekonomi sosial yang hadir di masyarakat ini bisa dilihat dengan mudah dari adanya peluang serta manfaat yang tidak sama dalam posisi sosial yang berbeda di dalam masyarakat.

Selain itu, kesenjangan sosial ini juga bisa dilihat dari adanya ketidaksetaraan pada barang atau jasa, kekayaan, imbalan, hukum, kesempatan yang diperoleh pada setiap orang.

Agar Anda lebih memahami arti dari kesenjangan sosial itu sendiri, mari kita melihat berbagai pendapat para ahli di bidangnya.

Robert Chambers menjelaskan bahwa kesenjangan sosial adalah adalah seluruh gejala yang muncul di dalam lapisan masyarakat karena adanya bentuk perbedaan dalam hal keuangan dan yang lainnya di antara masyarakat yang menempati suatu daerah tertentu.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kesenjangan sosial adalah perbedaan, ketidakseimbangan, serta jurang pemisah yang ada di dalam lapisan tatanan masyarakat.

Sedangkan jika merujuk pada Wikipedia, maka kesenjangan sosial adalah segala hal yang erat kaitannya dengan kesenjangan kekayaan, pendapatan, jurang pemisah antar si kaya dan si miskin, yang mengacu pada persebaran ukuran ekonomi di antara tiap personal dalam suatu kelompok masyarakat.

Baca juga: Derivatif Adalah: Pengertian dan Jenis-jenis Derivatif

Berbagai Faktor Penyebab Kesenjangan Sosial

1. Faktor Perbedaan Sumber Daya Alam

Lapisan tingkat ekonomi dalam sebuah daerah dipengaruhi oleh kekuatan sumber daya alam yang ada di daerahnya masing-masing. Tingkat perekonomian tersebut bisa meningkat jika sumber daya alam yang ada pada daerahnya bisa dikelola secara baik.

2. Faktor Kebijakan Pemerintah

Pihak pemerintah dalam mengambil kebijakan pun turut menjadi faktor hadirnya kesenjangan sosial yang hadir di lapisan masyarakat. Contohnya adalah seperti kesenjangan program transmigrasi, masyarakat pendatang biasanya akan cenderung lebih cepat berkembang daripada warga asli di daerah tersebut karena adanya kesempatan yang lebih besar yang diserahkan pada warga pendatang.

Hal tersebutlah yang kemudian bisa melahirkan adanya kesenjangan sosial ekonomi di dalam masyarakat.

3. Faktor Pengaruh Globalisasi

Selain bisa dimanfaatkan untuk menyentuh kemajuan bersama, globalisasi juga ternyata bisa melahirkan adanya kesenjangan sosial ekonomi di berbagai lapisan masyarakat. Kesenjangan sosial ekonomi tersebut lahir saat sebagian masyarakat di dalamnya tidak mampu beradaptasi dan tidak mampu memanfaatkan adanya globalisasi yang ada secara baik.

4. Faktor Demografis

Kondisi demografi daerah ditunjukan dengan adanya tingkat pertumbuhan masyarakat, pendidikan, kesehatan, lapangan pekerjaan, dan struktur kependudukan. Adanya perbedaan demografis antar tiap daerah ini bisa melahirkan adanya kesenjangan sosial, karena produktivitas kerja masyarakat pada tiap daerah tidak sama.

5. Faktor Letak dan Kondisi Geografis

Letak dan kondisi geografis pada suatu daerah umumnya mempengaruhi tingkat pembangunan pada daerah tersebut. Biasanya, masyarakat yang tinggal di dataran tinggi akan kesulitan untuk membangun infrastruktur daripada masyarakat lain yang tinggal di dataran rendah.

Hal tersebut menyebabkan mereka yang tinggal di dataran rendah bisa lebih cepat berkembang yang nantinya bisa melahirkan kesenjangan sosial.

Dampak Kesenjangan Sosial

1. Kemiskinan dan Pengangguran

Kesenjangan sosial ini ditandai dengan meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran setiap tahun. Apabila suatu negara didominasi oleh masyarakat miskin dan menganggur, maka pendapatan pada suatu negara juga sangatlah rendah.

Daya beli masyarakat pada keperluan sekunder akan menurun karenanya pendapatan yang tidak pasti dan cenderung menurun. Kondisi tersebut akan menyebabkan keuntungan perusahaan berjalan tidak maksimal.

2. Target Pasar yang Tidak Jelas

Berdasarkan pengertian kesenjangan sosial yang sudah kita bahas sebelumnya, kesenjangan sosial akan membuat target pasar suatu bisnis menjadi tidak jelas arahnya. Apabila suatu perusahaan mempunyai target pasar untuk masyarakat kelas bawah, maka tentunya perusahaan akan mengalami kerugian karena daya beli mereka akan cenderung menjadi tidak menentu.

Sebaliknya, walaupun perusahaan menargetkan kalangan kelas menengah ke atas, hal tersebut tidak serta merta membuat perusahaan mengalami keuntungan karena kalangan elit di Indonesia ini lebih menyukai produk luar negeri.

3. Sulit Mencari Tenaga Kerja yang Kompeten

Di lapangan, walaupun memang pengangguran di Indonesia ini banyak yang pengangguran, tapi banyak perusahaan yang mengklaim dirinya kesulitan untuk bisa memperoleh tenaga kerja yang kompeten. Adanya kesenjangan sosial di dalamnya membuat tingkat dan juga kualitas pendidikan masyarakat Indonesia banyak sekali yang berada di bawah rata-rata.

Walaupun lulusan sarjana di Indonesia memang sangat banyak, namun fakta di lapangan membuktikan bahwa keahlian mereka belum terlalu banyak dibutuhkan di Indonesia, khususnya untuk mereka yang belum berpengalaman.

4. Maraknya Tindak Kejahatan

Indonesia sendiri terbilang memiliki kasus kejahatan yang tinggi. Baru-baru ini bahkan banyak kejahatan dari hacker yang merugikan perusahaan besar karena para hacker tersebut berhasil meretas data penting.

Tingginya angka kriminal masyarakat di Indonesia ini bisa terjadi karena permasalahan keuangan akibat dari adanya kesenjangan sosial. Hal tersebut menjadi faktor terbesar yang membuat individu atau sekelompok orang melakukan tindak kejahatan.

Solusi Kesenjangan Antara Perkotaan & Pedesaan

Seperti yang sudah kita bahas bersama di atas, kita bisa memahami bersama bahwa kesenjangan sosial yang paling jelas terlihat adalah antara masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan. Adanya perbedaan latar belakang baik itu dalam sisi pendidikan, ekonomi ataupun akses terhadap fasilitas kesehatan tidak melulu disebabkan karena adanya faktor sosial-kultural masyarakat yang memegang kuat prinsipnya.

Kesenjangan ekonomi yang ada pada masyarakat perkotaan juga bisa disebabkan karena faktor sosial politik dan geografi daerah yang tidak menguntungkan bagi daerah pedesaan. Selain itu, kultur kekerabatan dan tradisi/adat istiadat juga menyebabkan kesenjangan sosial di dalamnya.

Jadi, dari masyarakat pedesaan juga secara internal harus mulai terbuka dengan dunia luar, mereka tidak boleh merasa alergi pada setiap perubahaan yang ada. Walaupun mempertahankan budaya sangat penting untuk menjaga adanya kearifan loka, tapi masyarakat di dalamnya juga harus mempunyai visi yang jelas dan terukur agar mereka bisa mendapatkan inisiatif untuk mampu merubah nasib mereka.

Tanpa adanya perubahan pola pikir yang selama ini telah mendarah daging di masyarakat pedesaan, mereka akan kesulitan untuk menjadi masyarakat yang maju, karena minimnya persaingan yang terjadi di antara mereka.

Masyarakat yang hidup bersama dengan mata pencaharian yang cenderung sama antara satu dan yang lain biasanya tidak mempunyai motivasi yang kuat untuk saling bersaing. Kalaupun memang ada ketimpangan sosial pada masyarakat pedesaan, biasanya ketimpangan yang terjadi tidak terlalu parah.

Lebih dari itu, pihak pemerintah juga harus mampu membuat kebijakan yang di berada di luar masyarakat itu sendiri. Susunan kebijakan tersebut adalah:

  1. Pihak pemerintah harus fokus dalam mendorong adanya peningkatan serta perbaikan infrastruktur desa, khususnya pada beberapa desa yang kondisi geografisnya tidak menguntungkan.
  2. Pihak pemerintah harus memprioritaskan akses pendidikan, informasi dan kesehatan gratis sehingga pembangunan yang terjadi di dalamnya bisa terwujud.
  3. Pemerintah harus memberikan modal bagi masyarakat desa agar mereka mempunyai pendapatan lain, jadi tidak hanya pada sektor pertanian. Adanya bantuan modal tersebut pastinya akan sangat membantu masyarakat karena mereka akan mampu mendirikan usaha. Sehingga, pendapatan ekonomi masyarakat di dalamnya bisa meningkat, khususnya pada masyarakat desa yang memiliki tanah gersang dan tidak mendukung untuk menanam pertanian.
  4. Pihak pemerintah juga harus aktif melakukan segregasi atau eksklusi pada masyarakat pedesaan.

Berbagai solusi tersebut harus bisa dijadikan input oleh pemerintah dalam menyusun berbagai kebijakan, khususnya yang erat kaitannya dengan peningkatan taraf hidup desa agar bisa menjadi lebih baik. Sehingga, pedesaan yang selama ini identik dengan keterbelakangan akan perlahan-lahan bisa berkembang menjadi desa maju.

Nah, salah satu indikator majunya pedesaan adalah dengan aktifnya masyarakat pengusaha UMKM dan UKM di dalamnya untuk menggunakan teknologi yang ada agar bisa membantu kegiatan bisnisnya, salah satunya adalah penggunaan software akuntansi dari Accurate Online.

Accurate Online adalah aplikasi akuntansi yang akan memudahkan setiap pengusaha dalam melakukan berbagai proses akuntansi, mulai dari pembuatan laporan laba rugi, hingga laporan keuangan yang penuh dengan perhitungan akuntansi.

Accurate Online juga akan memudahkan Anda dalam melakukan berbagai proses akuntansi yang rumit. Jadi, Anda bisa mencatat seluruh transaksi laporan keuangan Anda dengan cepat. Tertarik? Anda bisa mencoba menggunakan Accurate Online secara gratis selama 30 hari melalui tautan pada gambar di bawah ini: